5 Cara Terbaik Untuk Memimpin Dengan Kecerdasan Emosional

0 18

Kecerdasan emosional dapat membuat seseorang menjadi pemimpin yang hebat. Seperti yang bisa kita lihat pada contoh beberapa orang terkenal. Misalnya, Jeff Bezos terkenal sering membuat humor yang merendahkan dirinya sendiri untuk membuat orang lain di sekitarnya merasa nyaman dan untuk menunjukkan bahwa ia adalah manusia biasa sebelum menkadi CEO perusahaan besar, Amazon.

Contoh-contoh ini menggaris bawahi pentingnya kecerdasan emosional dan menunjukkan bagaimana rasa hormat terhadap orang lain dapat menginspirasi mereka untuk percaya pada kemampuan mereka dan mengambil tindakan. Di tempat kerja, menjadi cerdas secara emosional adalah sifat yang diinginkan di antara karyawan dan manajer karena membantu orang merasa nyaman bekerja satu sama lain.

Di sisi lain, mengesampingkan kecerdasan emosional dalam tempat kerja mungkin menjadi suatu hal yang paling harus dihindari oleh para manajer atau jajaran eksekutif lainnya, karena hal tersebut tidak akan memberikan kebahagiaan kepada para karyawan. Penelitian telah membuktikan bahwa tingkat produktivitas yang lebih tinggi di tempat kerja sangat berkorelasi dengan karyawan yang lebih bahagia.

Apa itu Kecerdasan Emosional?

Kecerdasan emosional didefinisikan sebagai “kumpulan kemampuan yang digunakan untuk mengidentifikasi, memahami, mengendalikan dan menilai emosi diri dan orang lain.” Kecerdasan emosional, atau EQ, adalah ukuran kecerdasan emosional seseorang.

Prinsip kecerdasan emosional memiliki banyak arti dan penerapan lintas disiplin — dari pendidikan hingga psikologi dan bisnis — tetapi yang paling penting adalah kematangan emosi untuk mendorong hubungan yang sehat.

Ada lima elemen kunci kecerdasan emosional, menurut psikolog Amerika Daniel Goleman:

  • Kesadaran diri
  • Regulasi diri
  • Motivasi
  • Empati
  • Keterampilan sosial

Berikut beberapa hal dapat Anda lakukan untuk menumbuhkan kecerdasan emosional dan meningkatkan keterampilan kepemimpinan Anda.

1. Kenali diri Anda.
Salah satu atribut dari seorang pemimpin yang cerdas secara emosional adalah kemampuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan Anda sendiri. Memiliki rasa kesadaran diri adalah penting untuk membantu Anda tetap adil dan obyektif dalam keputusan Anda.

Dalam sebuah rapat atau forum di tempat kerja, ketimbang membantah setiap masukan dan saran dari para karyawan, alangkah lebih baik Anda Alih-alih menembaki ide yang berlawanan, Anda bisa mundur selangkah dan bertanya pada diri sendiri: Mengapa saya pikir ide saya lebih baik? Apa bias kognitif saya yang mencegah saya untuk mempertimbangkan ide orang lain? Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa alasan harus muncul sebelum emosi.

2. berikan kepercayaan dan motivasi
Sebagai seorang pemimpin, Anda mungkin pernah mengalami dilema apakah akan bertanggung jawab penuh mengawasi kerja karyawan atau memberikan lebih banyak kepercayaan kepada mereka. Situasi ini semakin rumit karena beberapa karyawan mungkin ingin diawasi secara khusus, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak kepercayaan untuk mengerjakan sendiri.

Bagaimanapun, Anda mungkin merasakan dorongan untuk mendorong karyawan Anda mencapai potensi maksimal mereka, tetapi menjadi cerdas secara emosional berarti menciptakan beberapa dorongan yang membuat karyawan masuk ke dalam siklus pembelajaran dan membuat mereka siap untuk melangkah dan bertindak sebagai diri sendiri. Ketika ini terjadi, Anda harus siap untuk mengenali dan memberikan kepercayaan penuh kepada karyawan Anda untuk membuat kesuksesan mereka sendiri terjadi.

3. menumbuhkan lingkungan yang aman dan nyaman secara psikologis
Pelajaran bisnis dapat diperoleh dari mana saja — bahkan dari olahraga. Dalam American Football misalnya, kisah tentang bagaimana Philadelphia Eagles memenangkan kemenangan yang tidak diunggulkan di Super Bowl tahun lalu memberi kita pelajaran penting tentang kenyamanan psikologis dan bagaimana hal itu dapat membantu tim berkembang, baik dalam bisnis maupun dalam olahraga.

Dalam wawancara setelah pertandingan, quarterback cadangan Nick Foles memuji timnya, bukan keahliannya sendiri, dalam kemenangan Super Bowl pertama mereka.

“Saya pikir hal besar yang membantu saya adalah mengetahui bahwa saya tidak harus menjadi Superman. Saya memiliki rekan tim yang luar biasa, pelatih luar biasa di sekitar saya. Dan yang harus saya lakukan hanyalah bermain sekuat tenaga, dan bermain untuk satu sama lain, dan bermain untuk orang-orang yang mendukung kami.” Ujar Foles.

Intinya adalah bagaimana membuat orang-orang dalam tim merasa aman dan nyaman untuk mengambil risiko ketika mereka tahu bahwa anggota lain mendukung mereka. Ketika seseorang di tim Anda membuat kesalahan, buat orang itu merasa bahwa itu adalah bagian penting dari pembelajaran. Ketika seseorang mengajukan pertanyaan yang sepertinya jawabnnya sudah jelas atau ketika seseorang berbicara tentang ide baru yang tidak konvensional, dengarkan mereka. Hal tersbeut akan meningkatkan kepercayaan dan rasa percaya diri mereka. Sehingga para karyawan Anda akan termotivasi untuk terus maju hingga mencapai garis finish.

4. Tinggalkan egomu di depan pintu.
Secara naluriah, orang memperlakukan mereka dengan kekuatan dan pengaruh dengan cara yang berbeda. Mungkin tergoda untuk mengambil semuanya untuk percaya bahwa Anda lebih baik daripada orang lain. Sebagai pemimpin EQ tinggi, Anda tahu lebih baik bahwa menjadi percaya diri dan terlalu percaya diri adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama menimbulkan kekaguman, sedangkan yang kedua melahirkan kebencian.

5. Dari “Siapa yang harus disalahkan?” menjadi “Apa yang bisa kita lakukan?”
Ketimbang menghabiskan waktu untuk mencari tahu siapa yang harus disalahkan ketika terjadi kesalahan, seorang pemimpin dengan EQ tinggi akan mengambil tindakan dan menyelesaikan masalah yang ada. Mereka dapat menemukan respons yang tepat dan reaksi terbaik untuk situasi yang penuh tekanan.

Penting juga untuk dicatat bahwa para pemimpin yang cerdas secara emosional berpikir sebelum berbicara. Latihan yang baik adalah berhenti selama 6 detik, yang merupakan jumlah waktu yang baik untuk mengendalikan emosi Anda, mengatur pikiran Anda, dan menahan diri dari mengatakan sesuatu yang keras.

Leave A Reply

Your email address will not be published.